Bacaan Lirik Sholawat Amalan Doa Bulan Rajab Syaban Ramadhan

Di dalam al-qur’an surat at-taubah terdapat salah satu ayat yang menjelaskan tentang 4 bulan haram yang di muliakan serta pada ke empat bulan tersebut di larang untuk melakukan aktivitas peperangan dan sejenis. lalu apa saja yang termasuk ke empatnya tersebut. Pertama adalah bulan rajab, kedua muharram, ketiga dzulhijjah dan ke empat bulan dzulqaidah. Apabila bulan-bulan harram tersebut sudah tiba, maka umat islam lebih di anjurkan untuk mengisinya dengan bermacam-macam amalan seperti berpuasa dan memperbanyak dzikir amalan doa.

Rajab menjadi salah satu bulan haram atau mulia dan di muliakan yang berada antara Jumadil-Akhirah dan Sya’ban. Setiap umat muslim yang masih di beri umur panjang serta di beri kesempatan untuk masih bertemu dengan bulan rajab di anjurkan untuk mengisi bulan tersebut dengan amalan-amal baik misalnya puasa rajab, berdoa, dzikir, bersholawat dan hal-hal lainnya. Sebab di banding bulan lainnya bulan haram lebih memiliki keunggulan dan tentunya menjadi bulan yang sangat di sukai kedatangannya oleh baginda rosul saw.

Di antara amalan-amalan yang di unggulkan pada bulan rajab selain puasa yaitu berdoa, atau mengamalkan doa khusus bulan rajab seperti yang berbunyi “Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan”. Ketika bulan rajab datang maka jangan heran jika di kebanyak pondok pesantren selalu ramai setiap waktu membacakan doa khusus bulan rajab dengan nada seperti di sholawatkan, bahkan tidak hanya di pesantren saja di tiap majlis pun tidakalah ramainya membacakan shalat ini, lalu bagai mana kedudukan dari bacaan doa tersebut.

Bacaan Lirik Sholawat Amalan Doa Bulan Rajab Syaban Ramadhan

Mungkin tidak sedikit di antara kita yang bertanya bagaimana kedudukan dari doa yang berbunyi Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan yang memiliki arti seperti berikut Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan. Pertanyaan yang mungkin sering terlintas pada orang yang membacanya apakah ini doa dari baginda nabi atau dari para ulama, siapa pengarangnya jika bukan dari baginda nabi saw. Suatu pertanyaan yang sangat wajar di sampaikan oleh sesorang yang ingin beramal, agar amalnya benar-benar tepat sasaran, berikut sedikit pembahasannya.

Doa Bulan Rajab

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allâhumma bârik lanâ fî rajaba wasya‘bâna waballighnâ ramadlânâ

“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

Penjelasannya :

Doa tersebut diriwayatkan oleh beberapa ahli hadits. Di antaranya Abdullah bin Ahmad dalam kitab Syakir, Imam Al-Bazzar dalam kitab Kasyful Astar, Ibnu Abid Dunya dalam kitab Fadhail Ramadhan, Ibnus Sinni dalam kitab Al-Yaum wal Lailah, Imam At-Thabarani dalam kitab Mu’jamul Ausath, Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’, Imam Al-Baihaqi dalam kitab Fadhailul Auqat, dan bahkan Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar-nya juga mengutip doa tersebut dan menempatkannya di bab zikir-zikir yang berkaitan dengan ibadah puasa.

Berikut cuplikan nukilan doa tersebut dalam kitab Al-Adzkar Imam An-Nawawi:

وروينا في حلية الأولياء بإسناد فيه ضعفٌ، عن زياد النميري عن أنس رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : “اللَّهُمَّ بارِكْ لَنا في رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنا رَمَضَانَ”، ورويناه أيضاً في كتاب ابن السني بزيادة.

Artinya, “Kami riwayatkan dalam kitab Hilyatul Auliya dengan sanad yang dhaif (lemah), bersumber dari Ziyad An-Numairi dari Anas bin Malik RA. Ia berkata, ‘Rasulullah Saw ketika memasuki bulan Rajab berkata: Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban. Sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.’ Riwayat serupa juga kami riwayatkan dari kitab Ibnus Sinni dengan sedikit tambahan redaksi.”

Secara kualitas, sanad hadits tersebut agak sedikit bermasalah. Imam An-Nawawi menilainya dhaif (lemah). Imam At-Thabarani menggolongkannya sebagai hadits mungkar karena salah seorang perawinya yang bernama Zaidah bin Abir Riqad dinilai sebagai seorang rawi yang munkarul hadits. Ibn Abi Hatim juga menyebutkan bahwa Zaidah sering meriwayatkan hadits dari Ziyad An-Numairi, dari Anas bin Malik RA berupa hadits-hadits marfu’ yang munkar. Sementara itu, Imam Abu Dawud mengakui, beliau tidak mengetahui sumbernya.

Kemudian Ziyad bin Abdillah An-Numairi (salah seorang perawi lain dari hadits tersebut) juga dianggap dhaif oleh Ibnu Ma’in dan Abu Dawud. Ibn Hibban menilainya sebagai seorang yang munkarul hadits juga. Abu Hatim menegaskan, haditsnya dapat ditulis tapi tidak bisa dijadikan sebagai hujah (dalil).

Berdasarkan takhrijan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa secara sanad hadits tersebut memang bermasalah. Lantas apakah doa yang terdapat dalam hadits tersebut boleh diamalkan?

Hadits ini hanya berisi konten terkait doa dan harapan kebaikan yang tidak ada hubungannya dengan akidah ataupun ibadah mahdhah (murni), tapi masuk dalam ranah fadhail (keutamaan-keutamaan) saja. Kedhaifannya juga menurut versi Imam An-Nawawi tampaknya tidak terlalu parah dengan bukti ia tetap memasukkannya ke dalam kitabnya al-Adzkar, padahal kitab tersebut diniatkan sebagai rujukan bagi mereka yang ahli ibadah. Berikut nukilan perkataan Imam An-Nawawi dalam mukadimah kitabnya sebagai berikut.

فلهذا أرجو أن يكون هذا الكتاب أصلاً معتمداً، ثم لا أذكر في الباب من الأحاديث إلا ما كانت دلالته ظاهرة في المسألة.

Artinya, “Karena ini, saya berharap agar kitab ini (Al-Adzkar) menjadi sumber rujukan yang mu’tamad (diakui). Lalu, tidak saya sebutkan pada bab-babnya kecuali hadits-hadits yang memunyai hubungan makna yang jelas dengan tema yang sedang dibahas.”

Berdasarkan data ini, kita menyimpulkan bahwa hadits tersebut berstatus dhaif (lemah), namun tetap bisa diamalkan karena tingkat kedhaifannya yang tidak terlalu parah (berpatokan kepada pendapat Imam An-Nawawi) dan tidak berkaitan dengan masalah akidah dan ibadah mahdhah. Selain itu mengamalkan doa tersebut juga boleh selama tidak diyakini bahwa ia bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Allahu a‘lam.

Maka setelah mengetahui tentang kedudukan dari doa bulan rajab seperti yang tertera di atas, sekarang tidak usah ragu lagi untuk selalu menamalkannya selama bulan rajab masih ada. Karena yakin setiap kebaikan akan berbuah kebaikan juga apalagi ini dalam bentuk doa dan permohonan, namun apabila belum puas juga dengan pembahasan ini silahkan pelajari lagi lebih dalam semua hal yang berhubungan dengan bacaan lirik sholawat amalan doa bulan rajab syaban ramadhan lengkap menurut al quran mp3 bahasa arab dzikir artinya menjelang ramadhan dan lain sdebagainya.