Makna 6 Rukun Iman Dan 5 Rukun Islam Urutan Penjelasannya

Rukun iman dan islam adalah dua nama yang pasti sudah di kenal oleh semua umat islam pada umumnya, sebab biasanya kedua perkara ini hal yang paling pertama di kenalkan oleh orang tua dan para ustadz kepada anak-anaknya ketika anak tersebut masih belajar mengaji atau di sekolah-sekolah oleh para gurunya. Sejak kecil biasanya umat islam sudah di kenalkan dengan rukun islam dan iman berapa jumlah masing-masingnya dan apa saja, sehingga pasti kedua perkara ini sudah begitu di pahami urutan-urutannya.

Tetapi di karenakan rukun iman dan rukun islam ini menjadi pilar penting dalam beragama islam maka alangkah baiknya jika para pemeluk islam tidak hanya tahu macam-macamnya saja tetapi lebih baik lagi jika memahaminya beserta makna dan penjelasan dari keduanya. Tujuannya tiada lain agar keimanan dan keislaman kita dalam beragama semakin kokoh dan kuat tidak mudah tergoyahkan dengan hal-hal yang mungkin saja suatu ketika akan datang untuk menganggu dan mengancan atas keimanan dan keislaman kita.

Makna 5 Rukun Islam
1. Syahadat
2. Shalat
3. Zakat
4. Puasa
5. Ibadah Haji

Gambar Rukun Iman Dan Rukun Islam

Sebelum memahami lebih jauh tentang pembahasan ini, maka alangkah baiknya jika mengetahui dulu apa yang di sebut dengan rukun dan apa yang di sebut dengan islam. Rukun menurut bahasa adalah pilar,asas atau dasar, sedang menurut istilah yaitu sesuatu yang harus dikerjakan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan dan menjadi bagian pokok yang harus di penuhi dan apabila tidak di laksanakan maka batallah perkara tersebut, namun dalam rukun islam ada beberapa hal yang di kecualikan apabila tidak mampu untuk mengerjakannya.

Sedang kan untuk pengertian islam menurut bahasa adalah taat atau tunduk, dan pengertian islam menurut istilah adalah tunduk kepada setiap peraturan hukum syara (hukum Allah) yang telah di tetapkan. Sehingga jika melihat pengertian tersebut apabila ada di antara manusia yang mengaku sebagai umat islam namun nyatanya jauh dari tunduk terhadap aturan-aturan yang tetapkan dalam syariat islam maka keislamannya perlu di pertanyakan lagi sebab, dan berikut beberapa dalil tentang rukun islam.

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ؛ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ”

“Islam didirikan atas lima dasar, yakni Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya mendirikan shalat mengeluarkan zakat puasa Ramadhan dan beribadah haji (HR. Al Bukhari dan Muslim).

عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال : سمعت النبي صلَّى الله عليه وسلَّم يقول : بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ .رواه البخاري و مسلم .

Dari Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhuma-, katanya, “Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan” (HR:Bukhari dan Muslim).

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ عَلَى أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَيُكْفَرَ بِمَا دُونَهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): beribadah kepada Allah dan mengingkari (peribadahan) kepada selainNya, menegakkan shalat, membayar zakat, haji dan puasa Ramadhan”(HR Muslim).

Urutan Dan Makna Rukun Islam

1. Mengucapkan Dua kalimat Syahadat

أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمد رسول الله

Asyhadu an laa ilaaha illallāh wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullāh.’

Artinya : Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Dua kalimat syahadat memiliki makna-makna yang terkandung di dalam bacaannya. Pertama adalah pengakuan ketauhidan, dimana umat muslim hanya mempercayai bahwa tidak ada Tuhan yang haq untuk di sembah selain Allah SWT yang terkandung dalam kalimat Asyhadu an laa ilaaha illallāh. Dan yang kedua mempunyai makna pengakuan kerasulan jika Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah serta meyakini dan mempercayai bahwa yang di ajarkannya berupa sunnah merupakan kebenaran perintah dari allah swt.

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa tidak ada tuhan selain Allah(QS. Muhammad:19)

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya : Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia; yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian).Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Syahadat menurut bahasa adalah pemberitahuan tentang apa yang diketahui dan diyakini kebenarannya dengan pasti, Syahadat menurut syari’at adalah pengakuan, pembenaran dan keyakinan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah ‘Azza wa Jalla tiada sekutu bagi-Nya. Jadi makna laa ilaaha illallah ialah keyakinan dan pengakuan bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah lalu berkomitmen dengannya dan mengamalkan tuntutannya. Maka beribadah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya itulah makna laa ilaaha illallaah.

2. Sholat

Sholat (subuh, dhuhur, ashar, maghrib dan isya) termasuk pada peringkat kedua dari sederetan rukun islam yang harus di penuhi serta hukumnya wajib, artinya apabila jenis ibadah ini di tinggalkan maka selain keislamannya perlu di pertanyakan, dia juga akan mendapat dosa yang cukup besar. Sholat adalah sarana interaksi kita sebagai hamba dengan Allah sang Pencipta, dimana kita dapat berdoa, bermunajat dan memohon ampun dari semua hal, dan berikut beberapa dalil yang menjelaskan tentang kewajiban sholat tersebut dalam agama islam.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,” (QS.al Baqarah(2) : 3)

وَاَقِيْمِ الصَّلَوةَ اِنَّ الصَّلَوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرَ

Artinya: “Kerjakanlah sholat sesungguhnya sholat itu bisa mencegah perbuatan keji dan munkar.”(QS. Al-Ankabut:45)

الصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ ، مَنْ أقَامَها فَقدْ أقَامَ الدِّينَ ، وَمنْ هَدمَها فَقَد هَدَمَ الدِّينَ

“Sholat Adalah Tiang Agama, barangsiapa yang menegakkannya, maka ia telah menegakkan agamanya dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya

3. Zakat

Zakat dalam rincian rukun islam berada di posisi ke tiga setelah sholat yang wajib di penuhi oleh setiap umat muslim apabila sudah sampai pada ketentuan nisab hartanya dan pada akhir bulan ramadhan di sebut dengan zakat fitrah. Kewajiban dari zakat memiliki posisi yang cukup tinggi dan agung yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat, baik bagi si kaya maupun si miskin.

Serta zakat juga memiliki tujuan yang penting dalam kehidupan beragama seperti Membuktikan Penghambaan Diri Kepada Allâh Azza wa Jalla Dengan Menjalankan Perintah-Nya, tanda syukur terhadap nikmat allah, menyucikan diri dari dosa-dosa, menghilangkan sifat sifat bakhil, membersihkan harta, membersihkan orang hati si miskin dari sifat iri kepada si kaya, menumbuhkan solidaritas dan sosial hidup, menumbuhkan perekonian islam dan yang paling penting bahwa zakat juga memiliki makna syiar di dalamnya, bebriku beberapa dalil tentang kewajiban mengeluarkan zakat.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (al-Baqarah/2:43)

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allâh ialah orang-orang yang beriman kepada Allâh dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allâh, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (at-Taubah/9:18)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqarah/2:277).

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allâh Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (at-Taubah/9:103)

4 Puasa

Puasa wajib di bulan ramadhan yang datang satu tahun sekali termasuk pada peringkat keempat dari rincian rukun islam yang lima, seseorang yang mengaku umat islam serta sudah sudah sampai pada umur baligh menurut syariat agama maka di wajibkan untuk mengerjakan ibadah ini dan apabila di tinggalkan dengan sengaja atau tanpa ada sebab yang telah di tentukan maka keislamannya perlu di pertanyakan serta secepat-cepatnya untuk bertaubat dan mengqadha puasa yang di tinggalkan tersebut.

Pengertian puasa sendiri yaitu menahan diri dari segala hal yang bisa membatalkan pada puasa mulai dari terbitnya fajar kedua hingga terbenamnya matahari dan menjalankan semua syarat serta rukun yang telah di tentukan dalam menjalankannya dengan niat semata-mata karena allah swt. Di antara makna dan hikmah yang ada dalam puasa yaitu sebagai sarana menggapai ketakwaan, sarana mensyukuri nikmat, melatih diri dari syahwat atau hawa nafsu, melatih kesabaran, bermanfaat bagi kesehatan, menumbuhkan sifat kasih sayang dan yang paling utama adalah sebagai bukti penghambaan kepada Allah tabaraka wa ta’ala dan peneladanan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

يأَيُّهَا الَّذِينَءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqoroh: 183)

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa sholat di malam lailatul qodr karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

5. Haji

Ibadah haji termasuk pada rukun islam terakhir yang harus di penuhi, akan tetapi tidak semua umat islam di wajibkan melaksanakannya apabila syarat-syaratnya belum terpenuhi dan di antara syarat yang paling penting yaitu adanya kemampuan dari segi ekonomi untuk pergi beribadah haji, sebab untuk pergi ke kota makah dalam sarana beribadah haji maka setidaknya harus memiliki uang yang cukup banyak hingga puluhan juta rupiah, dan permasalahan ini tidak secara merata di miliki oleh semua umat islam , sehingga bisa di katakan bahwa ibadah haji ini termasuk rukun islam yang hanya di wajibkan kepada orang yang sudah mampu, dengan harus tetap berusaha untuk mencapainya.

Maksud dari Mampu dalam menunaikan ibadah haji artinya mempunyai kesanggupan untuk bisa sampai ke Masjidil Haram dengan cara yang benar dan legal, dan melaksanakan ibadah haji tanpa kesulitan berarti, kecuali kesulitan yang biasa ditemui dalam perjalanan. Selain itu, harta dan jiwanya harus terjamin aman, juga dengan syarat seluruh kebutuhan yang dia keluarkan untuk ibadah haji adalah harta lebih yang tidak mengganggu kebutuhan pokok bagi anak-istrinya dan semua orang yang berada di bawah tanggungannya.

Makna Beribadah Haji

1. Ibadah haji diawalii dengan niat sambil meninggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Dalam pakaian ihram itulah dapat di lihat secara nyata bahwa semua kita adalah sama, tadak ada perbedaan diantara kita, apakah status sosisl, ekonomi, profesi, politik dan sebagainya, sehingga semuanya tidak ada yang paling mulia dan terhormat kecuali kemampuan taqwa kepada Allah (Inna akromakum ‘indallahi atqokum). Dengan pakaian putih juga seseorang akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya serta pertenggung jawaban kelak di hadapannya, karena pakaian putih juga menggambarkan “latihan meninggal dunia”, kenapa latihan? Karena memang tidak mati betul. Dengan latihanlah kehidupan akan menjadi matang dan sistematis.

2. Dengan pakaian ihram, maka semua larangan harus di indahkan oleh pelaku ibadah haji. Janganlah sakiti binatang, janganlah membunuh, jangan mencubit pepohonan. mengapa demikian? Karna manusia berfungsi memelihara mahluk tuhan, sesama mahluk harus saling mengasihi, saling toleransi, meniadakan bentuk-bentuk terorisme dan yang paling penting umat islam adalah rahmah bagi seluruh alam.

3. Ka’bah yang dikunjungi merupakan simbol atas nilai-nilai kemanusiaan, disana misalnya ada hijr Ismail (pangkuan Ismail), saat Ismail dipangku oleh Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak, yang bahkan kuburannyapun berada di situ. Namun demikian wanita itu peninggalannya diabadikan Tuhan untuk memberi pelajaran bahwa Allah memberi status seseorang bukan karena keturunan atau status sosial, tetapi karena kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk Hajr (hijrah) dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban.

4. Orang yang bribadah haji semua akan menjalani ibadah Thawaf dan Sa’i. Thawaf dalam arti menggambarkan larut dan meleburnya manusia dalam hadirat ilahi sehingga manusia betul-betul mampu menjadikan hatinya bersama dengan Allah, kehusukan hatinya tidak diragukan lagi dan terbentuklah pribadi yang mencintai sesama. Sedangkan sa’i menggambarkan bahwa tugas manusia adalah berusaha semaksimal mungkin dalam kehidupan seperti yang dialami hajar dan putranya Ismail dengan ditemukannya sumur zamzam.

5. Di ‘Arafah seluruh jamaah berhenti sampai terbenamnya matahari. Disanalah mereka seharusnya menemukan ma’rifat pengetahuan tentang dirinya dan perjalanan kehidupannya. banyak sekali makana yang bisa di ambil dari ibadah haji sehingga di jadikan sebagai salah satu rukun iman, dan membuktikan bahwa ibadah haji termasuk ibadah yang agung dan memiliki posisi sangat tinggi, berikut beberapa dalil dari perintah beribadah haji.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (QS. Ali Imran: 97).

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (QS. Al-Hajj : 27)

Makna 6 Rukun Iman

1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada malaikat Allah
3. Iman kepada kitab-kitab Allah
4. Iman kepada rasul-rasul Allah
5. Iman kepada hari akhir
6. Iman kepada qada dan qadar

الإيمان تصديق بالقلب، وإقرار باللسان، وعمل بالجوارح،

Melihat dari segi pengertian maka Iman itu memiliki makna sebagai pengakuan yang diucapkan dengan lisan, dibenarkan dalam hati, dan direalisasikan atau dikerjakan oleh seluruh anggota badan, dalam arti dikerjakan oleh anggota maka itu disebut amalan. Dan pokok dasar yang harus di imani oleh setiap umat muslim ada enam urutan berdasarkan hadits dan firman allah dengan rangkuman seperti yang tertulis di atas, adapun mengenai dalil dari keenam dari rukun iman tersebut seperti yang tercantum dalam salah satu hadits bunyinya yaitu.

أنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتؤمن بالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّه ” ِ. ( رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Maknanya: “Iman adalah beriman kepada Allah, para Malaikat, kitab-kitab, para Rasul, hari akhir, qadar (ketentuan Allah) yang baik dan buruk”. (H.R. Muslim)

1. Iman kepada Allah

Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga dia mengimani 4 hal : Mengimani adanya Allah.Mengimani rububiah Allah,bahwa tidak ada yg mencipta,menguasai,dan mengatur alam semesta kecuali Allah.Mengimani uluhiah Allah,bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengingkari semua sembahan selain Allah Ta’ala. Mengimani semua nama dan sifat Allah (al-Asma’ul Husna) yg Allah telah tetapkan untuk diri-Nya dan yangg Nabi-Nya tetapkan untuk Allah, serta menjauhi sikap menghilangkan makna, memalingkan makna, mempertanyakan dan menyerupakanNya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al Hasyr:22-24).

2. Iman kepada malaikat Allah

Rukun iman selanjutnya yaitu mengimani malaiat allah, Wajib beriman dengan adanya para malaikat, mareka adalah hamba-hamba Allah yang mulia, bukan laki-laki dan bukan perempuan. Mereka tidak makan, minum, tidur dan nikah. Mereka tidak bermaksiat kepada Allah dan selalu menjalankan apa yang allah perintahkan kepadanya. Allah ta’ala berfirman:

لايعصون الله ماأمرهم ويفعلون ما يؤمرون (سورة التحريم:6)

Maknanya: “Mereka (para malaikat) tidak pernah membangkang terhadap apa yang diperintahkan Allah dan mereka senantiasa melakukan apa yang diperintahkan” (Q.S. at Tahrim:6)

10 Malaikat Yang Wajib Di Imani Beserta Tugas-Tugasnya

1. Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu Allah kepada nabi dan rasul.
2. Malaikat Mikail yang bertugas memberi rizki / rejeki pada manusia.
3. Malaikat Israfil yang memiliki tanggung jawab meniup terompet sangkakala di waktu hari kiamat.
4. Malaikat Izrail yang bertanggungjawab mencabut nyawa.
5. Malikat Munkar yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur.
6. Malaikat Nakir yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur bersama Malaikat Munkar.
7. Malaikat Raqib / Rokib yang memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala amal baik manusia ketika hidup.
8. Malaikat Atid / Atit yang memiliki tanggungjawab untuk mencatat segala perbuatan buruk / jahat manusia ketika hidup.
9. Malaikat Malik yang memiliki tugas untuk menjaga pintu neraka.
10. Malaikat Ridwan yang berwenang untuk menjaga pintu surga / surga.

3. Iman kepada kitab-kitab Allah

Iman terhadap kitab-kitab allah yang telah di turunkan kepada rasulnya, adalah kewajiban bagi setiap umat muslim yang beriman, mempercayai dengan yakin bahwa Allah swt telah menurunkan seluruh kitab-Nya kepada para rasul yang diutus untuk para hamba-Nya, dan meyakini bahwa dalam kitab tersebut mengandung kebenaran, cahaya, dan petunjuk bagi manusia di dunia dan akhirat sebagaimana dalam satu firman allah surat an nisa ayat 136 berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya (An-Nisaa`: 136).

4 Kitab Yang Wajib Di Imani
1. Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa AS
2. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud AS
3. Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa AS
4. Al-Qur’an di turunkan kepada nabi muhammad saw

4. Iman kepada rasul-rasul Allah

Wajib beriman dengan adanya utusan-utusan Allah, yaitu para nabi, baik nabi yang sekaligus menyandang predikat rasul maupun tidak, Rasul adalah laki-laki yang diperintahkan Allah untuk menyampaikan wahyu kepada kaumnya pada zamannya. Percaya kepada para nabi dan para rasul merupakan Rukun Iman yang keempat dalam Islam. Para Nabi boleh menyampaikan wahyu yang diterimanya tetapi tidak punya kewajiban atas umat tertentu atau wilayah tertentu. Sementara, kata “rasul” berasal dari kata risalah yang berarti penyampaian.

Karena itu, para rasul, setelah lebih dulu diangkat sebagai nabi, bertugas menyampaikan wahyu dengan kewajiban atas suatu umat atau wilayah tertentu. Dari semua rasul, Muhammad sebagai ‘Nabi Penutup’ yang mendapat gelar resmi di dalam Al-Qur’an Rasulullah adalah satu-satunya yang kewajibannya meliputi umat dan wilayah seluruh alam semesta ‘Rahmatan lil Alamin’.

25 Nabi Dan Rasul Yang Wajib Di Imani

1. Nabi Adam as
2. Nabi Idris as
3. Nabi Nuh as
4. Nabi Hud as
5. Nabi Saleh as
6. Nabi Ibrahim as
7. Nabi Luth as
8. Nabi Ismail as
9. Nabi Ishaq as
10. Nabi Ya’qub as
11. Nabi Yusuf as
12. Nabi Ayub as
13. Nabi Zulkifli as
14. Nabi Syu’aib as
15. Nabi Musa as
16. Nabi Harun as
17. Nabi Daud as
18. Nabi Sulaiman as
19. Nabi Ilyas as
20. Nabi Ilyasa as
21. Nabi Yunus as
22. Nabi Zakaria as
23. Nabi Yahya as
24. Nabi Isa as
25. Nabi Muhammad SAW

Dalil Tentang Iman Kepada Iman kepada rasul-rasul Allah

ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya,” dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami, ya Rabb kami. Dan kepada Engkaulah tempat kembali” (Al Baqarah:285).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada RasulNya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya (An Nisaa’:136).

5. Iman Kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir adalah mempercayai dengan sepenuh hati tanpa ada keraguan bahwa Allah akan mengembalikan hamba-Nya yang sudah mati ke suatu kehidupan yang kekal, tidak ada kematian setelahnya. Hari kehidupan kembali ini adalah hari pembalasan atas segala perbuatan masing-masing manusia di dunia serta mengimani semua yang terjadi di alam barzakh (di antara dunia dan akhirat) bersifat fitnah kubur (nikmat kubur atau siksa kubur) dan mengimani tanda-tanda hari kiamat, mengimani hari kebangkitan di padang mahsyar hingga berakhir di surga atau neraka.

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.(QS.An-Naml 87)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin , orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa sja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari akhir dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS.al-Baqarah:62).

6. Iman Kepada Qada Dan Qadar

Artian dalam bahasa Qada memiliki beberapa arti seperti hukum, ketetapan, perintah, kehendak, pemberitahuan dan penciptaan. Menurut istilah, qada adalah ketentuan dan ketetapan Allah SWT dari sejak zaman azali atas segala sesuatu yang berkaitan dengan iradah atau kehendak-Nya, baik itu kebaikan dan keburukan, hidup dan mati, dan lain sebagainya.

Artian dalam bahasa Qadar adalah kepastian, peraturan dan ukuran. Menurut istilah qadar adalah suatu perwujudan ketetapan (qada) terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan makhluk-Nya yang telah ada sejak zaman Azali dan pastinya sesuai dengan iradah-Nya. Disebut juga qadar adalah takdir Allah SWT yang berlaku bagi semua makhluk hidup, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi.

Beriman kepada Qada dan Qadar adalah menyakini dengan sepenuh hati bahwa adanya ketentuan Allah SWT yang berlaku bagi semua makhluk hidup yang ada dimuka bumi ini. Semua itu menjadi bukti kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Segala sesuatu yang ada terjadi di dunia ini telah ditetapkan oleh Allah SWT. Kita sebagai makhluk nya harus menyakini dengan sepenuh hati bahwa semua ini adalah bukti tanda kebesaran Allah SWT.

Takdir terbagi menjadi 2 yaitu:

Takdir Mua’llaq

Takdir mua’llaq adalah takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Sebagai contoh ada seorang siswa yang bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia belajar dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi seorang insyinyur pertanian.

Takdir Mubram

Takdir mubram adalah takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diushakan atau tidak dapat di tawar-tawar oleh manusia. Contohnya ada manusia yang dilahirkan dengan mata sipit, atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih dan lainnya.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS.Ar-rad:11).

Itulah sedikit penjelasan mengenai rukun iman dan rukun islam serta dalil dan maknanya, sebenarnya pembahasan yang berkaitan dengan kedua perkara ini sangat panjang sekali, tidak hanya sampai di sini saja. Akan tetapi tidak mungkin jika hanya di bahas dalam satu halaman saja, maka dari itu silahkan pelajari lebih jauh mengenai makna 6 Rukun Iman Dan 5 Rukun Islam Urutan Penjelasannya artinya adalah apa saja hikmah menurut bahasa dan istilah arkanul ke 3, 5 makalah nama nama hadits tentang macam macam mengapa kepada nabi dan rasul allah secara berurutan oleh umat islam kita harus beriman kepada kitab allah zakat haji dan lain sebagainya.